Bastem merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang dikenal memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat. Meskipun mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam, berbagai tradisi lokal masih tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya.
Salah satu tradisi yang masih dijumpai di sebagian masyarakat adalah syukuran atau peresmian rumah baru. Acara ini menjadi ungkapan rasa syukur atas selesainya pembangunan rumah sekaligus sebagai doa agar keluarga yang menempatinya diberikan keselamatan, kesehatan, dan keberkahan.
Rangkaian Acara
Pelaksanaan syukuran rumah biasanya diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, doa bersama, serta tausiah singkat yang dipimpin oleh tokoh agama. Setelah itu, keluarga mengundang kerabat, tetangga, dan sahabat untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan sebagai bentuk rasa syukur dan mempererat tali silaturahmi.
Di beberapa tempat, keluarga juga mengadakan musyawarah keluarga atau pertemuan adat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Mengapa Ada yang Mengenakan Baju Kuning?
Pada beberapa pelaksanaan tradisi di Bastem, terlihat sebagian peserta mengenakan pakaian adat berwarna kuning. Warna kuning dalam budaya setempat sering dimaknai sebagai lambang kehormatan, kemuliaan, dan rasa syukur.
Perlu dipahami bahwa penggunaan pakaian berwarna kuning merupakan bagian dari tradisi budaya dan tidak menjadi kewajiban dalam ajaran Islam. Pelaksanaannya pun dapat berbeda-beda, tergantung pada adat keluarga maupun desa masing-masing.
Hubungan Adat dan Agama
Banyak masyarakat Bastem tetap menjaga keseimbangan antara adat dan ajaran Islam. Tradisi budaya dipertahankan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, sehingga kegiatan syukuran rumah lebih menekankan pada doa kepada Allah SWT, mempererat silaturahmi, dan saling berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Menjaga Warisan Budaya
Keberagaman tradisi di Bastem menunjukkan bahwa budaya lokal dapat terus hidup berdampingan dengan kehidupan beragama. Nilai gotong royong, kebersamaan, saling menghormati, dan rasa syukur menjadi pesan utama dalam setiap pelaksanaan syukuran rumah.
Karena setiap desa dan keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda, bentuk pelaksanaan acara juga dapat bervariasi. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya yang patut dihargai dan dilestarikan.
Tradisi syukuran rumah baru di Bastem bukan hanya menjadi momen peresmian sebuah rumah, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat nilai kebersamaan. Selama dijalankan dengan tetap menghormati ajaran agama, tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya yang memiliki nilai luhur bagi masyarakat Bastem.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar