Sabtu, 11 Juli 2026

Desa Kecil yang Terus Diterjang Banjir: Harapan Warga Malangke Barat

Sebuah desa kecil di Kecamatan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara, hampir setiap tahun harus menghadapi kiriman banjir. Banjir tersebut disebabkan oleh curah hujan yang tinggi maupun meluapnya air sungai yang menggenangi permukiman warga.



Penyebab Banjir
Banjir di beberapa wilayah Malangke Barat dipicu oleh jebolnya tanggul yang memisahkan sungai dengan kawasan permukiman. Selain itu, hujan yang turun terus-menerus di daerah pegunungan menyebabkan debit air meningkat dan mengalir ke wilayah dataran rendah seperti Desa Lembang-Lembang, Desa Limbong Wara, dan Desa Wara.
Kondisi geografis yang rendah membuat air sulit surut sehingga banjir dapat bertahan selama beberapa hari, bahkan hingga berminggu-minggu.

Dampak Banjir
Banjir memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat. Banyak rumah mengalami kerusakan, bahkan ada yang hanyut terbawa arus. Beberapa fasilitas umum, termasuk rumah ibadah, juga mengalami kerusakan.

Proses belajar mengajar ikut terganggu karena akses menuju sekolah terendam banjir. Di sektor pertanian, para petani mengalami kerugian besar. Selama dua tahun terakhir, sebagian lahan persawahan tidak dapat menghasilkan panen akibat banjir yang terus berulang.

Selain itu, sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan, bahkan ada yang putus total. Untuk keluar masuk Desa Wara dan Desa Lembang-Lembang, warga terpaksa menggunakan perahu kecil. Kondisi ini menyulitkan masyarakat yang ingin berbelanja ke pasar maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari di desa tetangga seperti Urukumpang dan Malangke Satu.

Listrik Padam Berhari-hari
Banjir juga menyebabkan pasokan listrik terganggu. Warga sempat mengalami pemadaman listrik selama hampir satu minggu, sejak 5 hingga 9 Mei 2023.

Menurut keterangan warga Dusun Landungdou, sebuah gardu (trafo) listrik di sekitar Pasar Lama roboh akibat terendam banjir. Pihak PLN terus melakukan perbaikan, namun prosesnya terkendala karena tingginya genangan air. Sebagian wilayah telah kembali menikmati aliran listrik, sementara wilayah lainnya masih menunggu proses perbaikan selesai.

Harapan Masyarakat
Masyarakat berharap banjir segera surut dan pemerintah bersama pihak terkait dapat menghadirkan solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.

Warga juga berharap tanggul yang rusak dapat diperbaiki, akses jalan kembali normal, sektor pertanian kembali produktif, serta kehidupan masyarakat dapat pulih seperti sediakala. Bagi mereka, kembalinya aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pertanian merupakan harapan besar agar desa dapat bangkit dari dampak bencana yang berkepanjangan.


Tradisi Syukuran Rumah Baru di Bastem: Perpaduan Budaya Lokal dan Nilai-Nilai Islam

Tradisi yang Masih Dilestarikan
Bastem merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, yang dikenal memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat. Meskipun mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam, berbagai tradisi lokal masih tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya.

Salah satu tradisi yang masih dijumpai di sebagian masyarakat adalah syukuran atau peresmian rumah baru. Acara ini menjadi ungkapan rasa syukur atas selesainya pembangunan rumah sekaligus sebagai doa agar keluarga yang menempatinya diberikan keselamatan, kesehatan, dan keberkahan.

Rangkaian Acara
Pelaksanaan syukuran rumah biasanya diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, doa bersama, serta tausiah singkat yang dipimpin oleh tokoh agama. Setelah itu, keluarga mengundang kerabat, tetangga, dan sahabat untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan sebagai bentuk rasa syukur dan mempererat tali silaturahmi.

Di beberapa tempat, keluarga juga mengadakan musyawarah keluarga atau pertemuan adat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Mengapa Ada yang Mengenakan Baju Kuning?
Pada beberapa pelaksanaan tradisi di Bastem, terlihat sebagian peserta mengenakan pakaian adat berwarna kuning. Warna kuning dalam budaya setempat sering dimaknai sebagai lambang kehormatan, kemuliaan, dan rasa syukur.

Perlu dipahami bahwa penggunaan pakaian berwarna kuning merupakan bagian dari tradisi budaya dan tidak menjadi kewajiban dalam ajaran Islam. Pelaksanaannya pun dapat berbeda-beda, tergantung pada adat keluarga maupun desa masing-masing.

Hubungan Adat dan Agama
Banyak masyarakat Bastem tetap menjaga keseimbangan antara adat dan ajaran Islam. Tradisi budaya dipertahankan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, sehingga kegiatan syukuran rumah lebih menekankan pada doa kepada Allah SWT, mempererat silaturahmi, dan saling berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Menjaga Warisan Budaya
Keberagaman tradisi di Bastem menunjukkan bahwa budaya lokal dapat terus hidup berdampingan dengan kehidupan beragama. Nilai gotong royong, kebersamaan, saling menghormati, dan rasa syukur menjadi pesan utama dalam setiap pelaksanaan syukuran rumah.

Karena setiap desa dan keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda, bentuk pelaksanaan acara juga dapat bervariasi. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya yang patut dihargai dan dilestarikan.

Tradisi syukuran rumah baru di Bastem bukan hanya menjadi momen peresmian sebuah rumah, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat nilai kebersamaan. Selama dijalankan dengan tetap menghormati ajaran agama, tradisi ini menjadi salah satu warisan budaya yang memiliki nilai luhur bagi masyarakat Bastem.